Presiden Iran Menyampaikan Syarat Penting untuk Melanjutkan Gencatan Senjata dengan AS

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa keberlanjutan kesepakatan gencatan senjata yang sedang berlangsung sangat tergantung pada sejauh mana Amerika Serikat memenuhi komitmen yang telah disepakati sebelumnya.
Pezeshkian menyampaikan pernyataan ini dalam sebuah percakapan telepon dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, pada hari Kamis waktu setempat. Diskusi tersebut terjadi sehari setelah diberlakukannya gencatan senjata sementara selama dua minggu antara Teheran dan Washington, yang dianggap sebagai langkah awal menuju dialog lebih lanjut.
Kesepakatan gencatan senjata ini berhasil dicapai berkat mediasi dari Pakistan, setelah Amerika Serikat dan Israel tidak berhasil mencapai tujuan mereka setelah 41 hari pertempuran melawan Iran.
“Iran menerima gencatan senjata ini sebagai wujud tanggung jawab untuk menjaga stabilitas di kawasan serta mencegah perluasan konflik lebih lanjut,” ujar Pezeshkian seperti dikutip dari laman presstv.ir pada Jumat, 10 April 2026.
Ia juga menekankan bahwa kelanjutan dari kesepakatan ini sangat tergantung pada keseriusan pihak lawan dalam memenuhi komitmen yang ada.
Dalam kesempatan tersebut, Pezeshkian menyampaikan rasa terimakasih kepada negara-negara sahabat yang telah berupaya menghentikan apa yang ia sebut sebagai agresi ilegal dari Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ia juga mengapresiasi sikap Turki yang mengecam serangan militer tersebut serta solidaritas rakyat Turki terhadap Iran selama berlangsungnya konflik.
“Walaupun Amerika Serikat telah mengkhianati jalur diplomasi dan terus menyerang Iran selama dua putaran negosiasi terakhir, Republik Islam tetap bertanggung jawab dengan memenuhi permintaan dari negara-negara tetangga dan sahabat untuk menghentikan pertempuran dan melaksanakan gencatan senjata,” tambahnya.
Dua konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, yaitu agresi selama 12 hari pada Juni 2025 dan perang 41 hari yang baru-baru ini terjadi, berlangsung di tengah perundingan tidak langsung terkait isu nuklir antara kedua negara.
Serangan terbaru yang oleh Iran disebut sebagai agresi dari Amerika Serikat dan Israel dimulai pada 28 Februari, dan ditandai dengan serangan udara yang merenggut nyawa sejumlah pejabat tinggi dan komandan militer Iran.
Sebagai respons, angkatan bersenjata Iran melakukan serangan harian menggunakan rudal dan drone ke berbagai target di wilayah yang diduduki oleh Israel, serta ke pangkalan dan aset militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengumumkan gencatan senjata pada hari Rabu setelah Amerika Serikat menerima proposal 10 poin dari Iran, yang juga mencakup penghentian konflik di Lebanon.
➡️ Baca Juga: 5 Tren Tekstil Global yang Akan Mengubah Gaya Berpakaian di Tahun 2026
➡️ Baca Juga: POCO X7 Pro vs Redmi Note 14 Pro+: Duel “Turbo”, Mana Spes-nya Agresif?




