Pendapatan BUMA Internasional Turun Dua Digit Akibat Cuaca Buruk yang Ganggu Operasional

Jakarta – PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), yang bergerak di sektor pertambangan, melaporkan bahwa kinerja keuangan dan operasionalnya mengalami tekanan selama tahun buku 2025. Penurunan pendapatan grup ini terjadi di angka dua digit, yang disebabkan oleh gangguan operasional, cuaca yang tidak mendukung, serta penyelesaian kontrak di beberapa area operasional perusahaan.
Dalam laporan keuangan per 31 Desember 2025, pendapatan BUMA tercatat sebesar US$1,48 miliar, atau setara dengan Rp 25,17 triliun (berdasarkan kurs Rp 17.010 per dolar AS). Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year on year).
Dari segi profitabilitas, EBITDA BUMA juga mengalami penurunan, kini berada di angka US$175 juta dengan margin sebesar 14 persen. Penurunan ini dipicu oleh berkurangnya volume produksi, meningkatnya biaya bahan bakar, serta beban pesangon. Jika kita mengesampingkan faktor pesangon, EBITDA mencatat angka sebesar US$207 juta dengan margin 17 persen.
“Gangguan yang kami alami di kuartal pertama memberikan dampak yang besar terhadap produksi dan pendapatan, sekaligus menunjukkan area-area di mana pendekatan kami perlu diperkuat,” ungkap Iwan Fuad Salim, Direktur BUMA, dalam keterangan resmi yang dirilis pada Senin, 30 Maret 2026.
Iwan menambahkan bahwa perusahaan telah mengambil langkah cepat dengan memperketat disiplin operasional, meningkatkan pengendalian biaya, serta memperkuat fundamental pemeliharaan dan likuiditas. Upaya-upaya ini diharapkan dapat mendorong peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, dan arus kas sepanjang tahun, serta memberikan landasan yang lebih kokoh memasuki tahun 2026.
Perusahaan mencatatkan rugi bersih sebesar US$128 juta, yang setara dengan sekitar Rp 2,17 triliun. Kerugian ini disebabkan oleh penurunan EBITDA, penyisihan terhadap piutang usaha dari kontrak yang telah berakhir di Australia, serta penurunan nilai aset yang terjadi di Australia dan Amerika Serikat.
Meskipun mengalami tekanan, sebagian kerugian tersebut dapat diimbangi oleh keuntungan nilai wajar sebesar US$41 juta dari investasi BUMA di 29Metals, serta keuntungan selisih kurs sebesar US$36 juta. Hal ini merupakan perubahan positif dari kerugian sebesar US$19 juta pada tahun 2024 menjadi keuntungan sebesar US$17 juta pada tahun 2025.
Pembalikan pencadangan piutang di Australia, menyusul keputusan Mahkamah Agung Queensland yang menguntungkan BUMA Australia, turut berkontribusi untuk menahan kerugian agar tidak semakin membengkak. Perusahaan mengharapkan penyelesaian keuangan ini dapat terealisasi pada tahun 2026.
Grup mencatatkan arus kas bebas (free cash flow) positif sebesar US$8 juta, berbanding terbalik dengan arus kas negatif sebesar US$60 juta sepanjang tahun 2024. Khusus pada kuartal IV-2025, Grup membukukan arus kas bebas mencapai US$57 juta, yang merupakan pencapaian tertinggi sepanjang tahun dalam hal arus kas bebas kuartalan.
➡️ Baca Juga: Menteri PU Menyoroti ASN Tinggal di Kawasan Elit Senopati dan Pondok Indah Terkait Masalah Pendapatan
➡️ Baca Juga: Prabowo Luncurkan Reformasi Pendidikan dengan Renovasi 300 Ribu Sekolah dan Digitalisasi Nasional




