Belanja Masyarakat Menguat Jelang Lebaran, Penjualan Ritel Diperkirakan Tumbuh 6,9%

Aktivitas belanja masyarakat biasanya menunjukkan peningkatan yang signifikan selama bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kenaikan ini sering kali tercermin dalam performa sektor ritel, yang menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur dinamika pengeluaran rumah tangga di Indonesia.
Tanda-tanda penguatan konsumsi terlihat jelas dari survei terbaru mengenai penjualan ritel, yang menunjukkan adanya pertumbuhan penjualan pada awal tahun 2026, terutama menjelang bulan Ramadan dan persiapan untuk Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri.
Pada Februari 2026, diperkirakan bahwa kinerja penjualan ritel akan mengalami peningkatan baik secara tahunan maupun bulanan. Hal ini dapat dilihat dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang diprediksi tumbuh sebesar 6,9 persen dibandingkan tahun lalu.
Peningkatan penjualan ritel ini didorong oleh hampir semua kelompok barang, terutama kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga, serta subkelompok sandang yang menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Menurut pernyataan resmi dari Bank Indonesia (BI), penjualan ritel di bulan Februari 2026 diperkirakan akan meningkat sebesar 4,4 persen secara bulanan. Kenaikan ini didorong oleh tingginya permintaan masyarakat saat Ramadan dan persiapan untuk Hari Raya Idul Fitri 1447 H.
Sementara itu, pada bulan Januari 2026, IPR tercatat tumbuh 5,7 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama didukung oleh peningkatan penjualan di sektor barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, serta subkelompok sandang.
Namun, pada bulan Januari 2026, penjualan ritel mengalami penurunan sebesar 2,7 persen secara bulanan. Penurunan ini sejalan dengan normalisasi pola konsumsi masyarakat setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru yang biasanya memicu lonjakan belanja.
Selain melihat perkembangan penjualan, survei juga memberikan informasi mengenai ekspektasi harga dalam beberapa bulan ke depan. Dari sisi inflasi, diperkirakan ada penurunan tekanan harga dalam tiga bulan mendatang.
Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) pada bulan April 2026 diperkirakan berada di angka 153,9, lebih rendah dibandingkan IEH bulan Maret 2026 yang mencapai 175,7. Penurunan ini seiring dengan normalisasi harga setelah HBKN Idul Fitri 1447 H.
Namun, untuk enam bulan ke depan, tekanan harga diperkirakan akan meningkat. IEH pada bulan Juli 2026 diprediksi mencapai 157,1, lebih tinggi dibandingkan dengan IEH bulan Juni 2026 yang sebesar 156,3, didorong oleh kenaikan harga pada saat tahun ajaran baru.
➡️ Baca Juga: Film ‘Pig Feast’ Dikecam, Dinilai Mengabaikan Pembangunan Energi Nasional yang Penting
➡️ Baca Juga: Festival Musik Tradisional di Jawa, Melestarikan Budaya



