Museum dan Monumen Bahasa Nasional: Jejak Sejarah dan Pemersatu Bangsa Indonesia

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian memberikan apresiasi yang tinggi terhadap inisiatif pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional yang berlokasi di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Ia mengungkapkan bahwa proyek ini merupakan langkah krusial dalam melestarikan jejak sejarah bahasa Indonesia serta mengenalkan asal-usulnya kepada generasi mendatang.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mendagri saat menghadiri acara groundbreaking Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat pada Kamis, 24 September 2026. Menurutnya, museum dan monumen ini tidak hanya akan menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi bagi masyarakat Indonesia untuk memahami evolusi bahasa yang kini menjadi bahasa nasional.
Tito menekankan bahwa bahasa Melayu memiliki peran penting dalam perkembangan bahasa Indonesia. Bahasa ini telah lama digunakan sebagai alat komunikasi antar daerah, sehingga diakui sebagai elemen vital dalam pembentukan identitas kebangsaan Indonesia.
“Bahasa Melayu kini telah bertransformasi menjadi bahasa Indonesia yang menjadi bagian wajib dalam kurikulum pendidikan. Dari Sabang hingga Merauke, keberadaannya tidak hanya terbatas di wilayah Melayu, Sumatera, atau Kalimantan, tetapi juga menjangkau Bali dan Papua,” imbuhnya.
Ia menjelaskan bahwa bahasa Indonesia memegang peranan strategis sebagai penghubung komunikasi antara berbagai suku dan daerah, di tengah keberagaman bahasa yang terdapat di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia berfungsi lebih dari sekadar alat komunikasi; ia juga menjadi komponen penting dalam menjaga persatuan bangsa.
“Inilah yang menyatukan kita. Museum dan monumen ini akan berfungsi sebagai simbol persatuan kita,” tegasnya.
Lebih lanjut, Mendagri menilai bahwa pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional dapat menjadi wadah untuk mengenalkan sejarah bahasa Indonesia kepada generasi muda. Terlebih lagi, Pulau Penyengat memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan bahasa Melayu, termasuk melalui karya-karya Raja Ali Haji.
“Kita sedang berupaya untuk mengumpulkan semua jejak sejarah tersebut. Inisiatif yang diambil oleh Bapak Gubernur patut diapresiasi. Dengan adanya museum dan monumen ini, kita dapat menemukan jejak yang sesungguhnya, yang secara sistematis menunjukkan bahwa bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu, dan semua jejak itu akan terkumpul dalam museum ini,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan harapannya agar pembangunan ini dapat dilanjutkan dan dipelihara oleh para pemimpin di masa mendatang. Menurutnya, keberlanjutan proyek ini sangat penting agar fasilitas yang dibangun tidak hanya berhenti pada tahap fisik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
➡️ Baca Juga: Apple Mendominasi Pasar Smartphone Hijau, Sementara Produk Korea dan China Tercatat Merah
➡️ Baca Juga: Strategi Inovasi Produk untuk Menghadapi Pasar Jenuh dan Meningkatkan Daya Saing Bisnis




