Buya Yahya Menguraikan Perang Dunia 3 dan Tanda-Tanda Kiamat yang Perlu Diketahui

Isu mengenai Perang Dunia 3 sering kali mengemuka dan sering dikaitkan dengan tanda-tanda kiamat. Dalam konteks ini, Buya Yahya menyampaikan pentingnya untuk tidak terburu-buru mengaitkan setiap konflik global dengan pertanda akhir zaman yang dijelaskan dalam ajaran Islam.
Penjelasan ini menjadi sangat relevan di tengah meningkatnya kecemasan masyarakat terkait situasi geopolitik yang semakin kompleks. Buya Yahya menekankan bahwa meskipun perang dapat terjadi kapan saja, hal tersebut tidak otomatis menjadi indikator dari tanda-tanda besar kiamat.
“Perang dapat terjadi kapan saja, tetapi untuk mengaitkannya dengan malhamah kubra yang terdapat dalam Al-Qur’an, itu tidak bisa dipastikan. Ada tanda-tanda lain yang harus diperhatikan terkait malhamah kubra itu,” ujar Buya Yahya dalam penjelasannya di kanal YouTube pada Senin, 2 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa tanda-tanda kiamat besar memiliki indikator tertentu yang termaktub dalam hadis. Oleh karena itu, sebagai umat Islam, kita tidak perlu memaksakan setiap peristiwa besar untuk dianggap sebagai bagian dari skenario akhir zaman.
Buya Yahya juga mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam kekhawatiran berlebihan tentang konflik di belahan dunia lain, sementara sering kali kita mengabaikan permasalahan yang ada di sekitar kita sendiri.
“Maka, tetaplah waspada. Jangan hanya fokus pada perang di luar negeri. Mari kita perhatikan kedamaian di lingkungan kita. Meskipun sangat baik untuk peduli pada konflik yang jauh, penting juga untuk menciptakan harmoni di rumah kita sendiri,” jelas Buya.
Pesan ini menekankan pentingnya menjaga kedamaian dalam keluarga sebelum kita terlibat dalam pembahasan mengenai isu-isu global. Menurutnya, mencegah “perang” dalam keluarga dan lingkungan sekitar adalah bagian dari tanggung jawab moral yang dimiliki oleh seorang Muslim.
Selain membahas tanda-tanda kiamat, Buya Yahya juga menyinggung hadis yang menyatakan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Ia menjelaskan bahwa hadis tersebut memiliki berbagai riwayat dan seringkali menjadi perdebatan di kalangan ulama hadis.
“Hadis ini seharusnya mendorong kita untuk berlomba-lomba dalam menjaga kewaspadaan, bukan untuk menjustifikasi bahwa kita keluar dari kelompok yang benar,” tambahnya.
Ia mengingatkan agar kita tidak merasa paling benar atau mudah menghakimi kelompok lain sebagai sesat atau penghuni neraka. Menurut Buya, Nabi Muhammad SAW tidak menunjuk kelompok tertentu secara spesifik, melainkan memberikan petunjuk agar umatnya mengikuti manhaj Rasul dan para sahabat dengan bijak.
➡️ Baca Juga: Isu Kemanusiaan di Afghanistan: Apa yang Dapat Dilakukan Dunia?
➡️ Baca Juga: Wapres Dorong Penguatan Ekonomi Syariah di Kawasan Timur