Saham Fesyen Mewah Tertekan, Hermes Turun Dua Digit Akibat Konflik Timur Tengah

Saham perusahaan fesyen mewah mengalami penurunan signifikan pada sesi perdagangan Rabu, 15 April 2026. Penurunan ini terjadi setelah laporan kinerja kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan hasil yang mengecewakan, terutama di tengah ketegangan yang terjadi di Timur Tengah yang berkelanjutan.
Saham Hermes mengalami penurunan tajam sebesar 14 persen. Tekanan ini juga merembet pada saham perusahaan fesyen lain dalam grup LVMH, termasuk Burberry, Christian Dior, LVMH, dan Moncler, yang tercatat mengalami penurunan antara 2 hingga 3 persen di indeks Stoxx 600.
Hermes mengumumkan bahwa penjualan mereka mencapai 4,1 miliar euro pada kuartal I-2026. Namun, perusahaan mencatat adanya penurunan jumlah wisatawan yang datang, yang berhubungan langsung dengan ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah.
“Walaupun ada penurunan arus pengunjung akibat situasi di Timur Tengah, kami masih melihat peningkatan penjualan di toko grup sebesar 7 persen. Namun, sektor grosir kami mengalami dampak yang cukup besar karena penjualan ke toko konsesi, khususnya di Timur Tengah dan bandara, menurun drastis,” ungkap manajemen Hermes dalam pernyataannya yang dilansir oleh CNBC Internasional pada 15 April 2026.
Di sisi lain, Kering juga melaporkan hasil yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Pendapatan kuartal pertama mereka tercatat sebesar 3,57 miliar euro, turun 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan paling signifikan berasal dari merek ikonik mereka, Gucci, yang mencatat penurunan penjualan sebesar 8 persen, lebih dalam dari proyeksi para analis.
Perusahaan fesyen terkemuka asal Prancis, Kering, yang menaungi merek-merek terkenal seperti Gucci, Saint Laurent, dan Balenciaga, melaporkan penurunan penjualan sebesar 11 persen pada kuartal I-2026. Hal ini terjadi meskipun mereka sempat mencatat pertumbuhan pada dua bulan pertama tahun ini. Wilayah Timur Tengah menyumbang sekitar 5 persen dari total pendapatan ritel perusahaan, dengan 79 gerai yang beroperasi di kawasan tersebut.
“Gucci tetap menjadi fokus utama kami. Kami sedang melaksanakan transformasi menyeluruh, dengan langkah-langkah strategis di sisi pelanggan, distribusi, dan terutama penawaran produk kami,” kata CEO Kering, Luca de Meo.
Penurunan yang dialami sektor fesyen mewah ini mengikuti periode pertumbuhan pesat yang berakhir pada tahun 2022. Lonjakan permintaan selama masa pandemi sebelumnya telah mendorong kenaikan harga, namun kini berdampak pada melemahnya daya beli konsumen, terutama di pasar utama seperti China.
Dalam menghadapi ketidakpastian global dan konflik geopolitik yang masih berlanjut, para pelaku pasar kini tengah memantau strategi pemulihan yang akan dipaparkan Kering dalam acara Capital Markets Day yang akan datang.
➡️ Baca Juga: Marcus Rashford Mendapatkan Kritik Tajam dari Media Spanyol karena Kurangnya Karakter
➡️ Baca Juga: Pameran Seni Rupa di Surabaya, Menampilkan Karya Lokal




