Menganalisis Pemikiran Islam Bung Karno dan Pentingnya Indonesia Meninggalkan Board of Peace

Diskusi bertema “Bedah Pemikiran Islam Bung Karno” diselenggarakan di Museum Multatuli, Rangkasbitung pada Jumat, 6 Maret, dalam rangka buka puasa dan merayakan Dies Natalis GMNI yang ke-72. Acara ini tidak hanya membahas pemikiran keislaman dari proklamator Indonesia tersebut, tetapi juga mengaitkannya dengan isu geopolitik terkini, termasuk keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BOP) setelah serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Acara ini menghadirkan beberapa pembicara, termasuk Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Bonnie Triyana, akademisi Agus Sutisna, dan politisi muda Seno Bagaskoro. Mereka menggunakan kesempatan ini untuk mengaitkan warisan pemikiran Bung Karno dengan tantangan yang dihadapi dalam politik luar negeri saat ini.
Bonnie Triyana membuka acara dengan menjelaskan bagaimana pemikiran Islam Bung Karno telah terbentuk sejak masa mudanya. Ia mengungkapkan bahwa Bung Karno mendapatkan pengaruh yang signifikan dari H.O.S. Cokroaminoto di Surabaya, tempat ia tinggal dan belajar. Dari sosok Cokroaminoto, Bung Karno mempelajari berbagai aspek, mulai dari ajaran Islam, keterampilan berpidato, hingga kemampuan untuk mengorganisir massa dan berpolitik.
Menurut Bonnie, Bung Karno merupakan hasil dari perpaduan berbagai kebudayaan yang tumbuh dalam tradisi sinkretis. Hal ini memudahkan beliau untuk menjangkau dan merangkul beragam kalangan masyarakat, menciptakan ikatan yang kuat di antara mereka.
Lebih jauh, Bonnie menjelaskan bahwa fase kedua dari pendalaman keislaman Bung Karno terjadi selama masa penahanan dan pengasingan. Pada saat-saat sulit ini, ia menghabiskan waktu membaca Al-Quran serta tafsirnya, dan terlibat dalam diskusi serta debat mengenai Islam dengan tokoh-tokoh seperti Ahmad Hassan, pendiri Persis, dan Muhammad Natsir.
Bonnie juga menyoroti keberanian Bung Karno dalam melakukan ijtihad sosial, yang menunjukkan kemampuannya untuk mengontekstualisasikan ajaran Islam. Salah satu contohnya adalah ketika ia menginstruksikan anak angkatnya untuk membersihkan panci yang telah dijilat anjing dengan menggunakan sabun (kreolin), bukan hanya air tanah tujuh kali, dengan alasan bahwa teknologi modern dapat membantu membunuh bakteri.
Selain itu, pada tahun 1938, Bung Karno memberikan izin untuk transfusi darah dari non-muslim dalam situasi darurat kemanusiaan, meskipun banyak ulama pada waktu itu yang mengharamkannya. Tindakan ini menunjukkan sikap progresif Bung Karno dalam menginterpretasikan ajaran Islam sesuai dengan konteks zaman.
Bonnie menegaskan bahwa Bung Karno adalah seorang mujtahid, yang berani melakukan ijtihad dalam merespons tantangan pemikiran-pemikiran Islam dengan mempertimbangkan kondisi kekinian yang dihadapi oleh Indonesia.
Seno Bagaskoro menambahkan perspektif mengenai semangat sejarah yang diajarkan oleh Bung Karno, yaitu pentingnya keberanian untuk berpikir kritis dan menciptakan realitas baru. Ini adalah nilai-nilai yang relevan bagi generasi muda saat ini dalam menghadapi berbagai tantangan global.
➡️ Baca Juga: Mengenang Try Sutrisno: Pejuang Konstitusi dan Patriot Bangsa yang Menginspirasi
➡️ Baca Juga: Penelitian tentang Kualitas Pendidikan di Indonesia




