Slot PGSoft memperkenalkan variasi tema dalam koleksi game modern

Perkembangan teknologi mahjong ways membentuk komunitas kreatif

Super scatter menampilkan elemen grafis berwarna dengan gaya yang dinamis

Gates of Olympus sajikan bagi-bagi bonus fortune golden festival dengan sensasi berkelas

Slot online dengan fitur sticky wild dan keunggulannya

Evolusi teknologi global mahjong ways membantu memahami studi dinamika transformasi big data

depo 10k depo 10k
bisnis

Rupiah Menguat Tipis, Namun Diperkirakan Melemah Jelang Keputusan Suku Bunga BI

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan tipis pada perdagangan hari ini, Rabu, 19 Agustus 2026. Pergerakan mata uang Garuda ini terjadi di tengah perhatian investor yang menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan berlangsung siang ini.

Berdasarkan data perdagangan terkini, rupiah dibuka pada level Rp17.860 per dolar AS. Angka ini mencerminkan penguatan sebesar 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.862 per dolar AS.

Meskipun diawali dengan penguatan, pergerakan rupiah diperkirakan akan menghadapi beberapa tantangan. Para pelaku pasar menunjukkan sikap kehati-hatian sambil menunggu keputusan BI terkait kebijakan suku bunga acuan yang akan diumumkan setelah RDG.

Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan bahwa rupiah berpotensi melemah pada sesi perdagangan kali ini. Menurutnya, fokus investor saat ini tertuju pada hasil RDG BI yang diharapkan akan memberikan arahan jelas bagi pergerakan mata uang tersebut.

“Rupiah hari ini diperkirakan akan bergerak melemah dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.900, seiring dengan sikap hati-hati pelaku pasar yang memperhatikan hasil RDG Bank Indonesia siang nanti,” jelas Rully kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Rully juga memperkirakan bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 5,75 persen dalam RDG kali ini, tanpa adanya perubahan.

Namun, di sisi lain, BI diperkirakan akan lebih aktif dalam menerapkan kebijakan di pasar valuta asing dan obligasi. Langkah ini menjadi perhatian utama bagi pelaku pasar, terutama dalam memahami arah kebijakan moneter BI ke depan.

Berbagai analis lainnya juga memprediksi bahwa keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga tidak terlepas dari kondisi inflasi yang saat ini sudah berada di bawah 3 persen, yang menjadi salah satu pertimbangan penting.

Selain itu, perbaikan aliran modal masuk atau capital inflow juga dianggap mendukung penguatan nilai tukar rupiah. Hal ini disampaikan oleh Faisal Rachman, Kepala Riset Makroekonomi & Pasar Keuangan di Permata Bank.

Faktor eksternal juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Ekspektasi terhadap peningkatan suku bunga Federal Reserve atau The Fed dalam waktu dekat mulai menunjukkan penurunan, menyusul beberapa data ekonomi AS yang menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

➡️ Baca Juga: Teknik Ampuh Menjual Jasa Penerjemah Bahasa Secara Online Dengan Keuntungan Besar

➡️ Baca Juga: Dampak Perang di Ukraina terhadap Ekonomi Global

Related Articles

Back to top button