BMKG Mengonfirmasi Hilal di Malang Tidak Terlihat Akibat Awan Menghalangi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Malang mengonfirmasi bahwa hilal yang menandai awal 1 Syawal 1447 Hijriah atau 2026 Masehi tidak terlihat di Kabupaten Malang, Jawa Timur, disebabkan oleh awan tebal yang menghalangi pandangan.
Ricko Kardoso, Kepala Stasiun Geofisika Malang, mengungkapkan hal tersebut setelah pelaksanaan rukyatul hilal yang berlangsung di Command Center Lantai 9 Kantor Bupati Malang pada Kamis, 19 Maret 2026. Ia menjelaskan bahwa ketinggian hilal di wilayah Malang, berdasarkan perhitungan astronomis yang dilakukan saat matahari terbenam pada pukul 17.54 WIB, berada pada angka 1,654 derajat.
“Selama periode pengamatan dari waktu terbenam matahari pada pukul 17.41 WIB hingga kami menunggu hingga waktu terbenam bulan pada pukul 17.50 WIB, hilal tidak terlihat di ufuk barat karena tertutup oleh awan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa ketinggian hilal di Malang adalah 1,654 derajat dengan elongasi 5,1 derajat,” jelas Ricko, merujuk pada informasi yang diperoleh dari Antara pada hari yang sama.
Ia menambahkan bahwa ketinggian 1,654 derajat tersebut merupakan kondisi riil yang diobservasi dengan menggunakan perangkat khusus untuk pengamatan hilal. Data ini menunjukkan pentingnya penggunaan teknologi dalam pengamatan astronomi.
Menurut rilis BMKG yang disampaikan oleh Ricko, ketinggian hilal di berbagai wilayah Indonesia saat matahari terbenam pada hari tersebut bervariasi, mulai dari 0,91 derajat di Merauke, Papua Selatan, hingga 3,13 derajat di Sabang, Aceh. Informasi ini memberikan gambaran mengenai kondisi hilal di seluruh nusantara.
Selain itu, elongasi geosentris hilal diperkirakan mencapai 4,54 derajat di Waris, Keerom, Papua, dan di Banda Aceh 6,1 derajat. Umur bulan pada saat pengamatan juga berbeda-beda, dengan catatan 7,41 jam di Waris dan 10,44 jam di Banda Aceh, menunjukkan variasi yang signifikan dalam pengamatan hilal.
Di wilayah Malang Raya lainnya, Stasiun Geofisika Malang memperkirakan bahwa tinggi hilal di Kota Batu mencapai 1,68 derajat dengan elongasi 5,51 derajat. Sementara itu, untuk Kota Malang, diperkirakan tinggi hilal berada pada angka 1,66 derajat dengan elongasi yang sama.
Meskipun demikian, Ricko menegaskan bahwa dalam kegiatan rukyatul hilal, mereka hanya berwenang menyediakan informasi awal yang bersifat data. Oleh karena itu, keputusan akhir mengenai penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah tetap berada di tangan pemerintah pusat.
“Penetapan ini akan menunggu hasil Sidang Isbat dari Kementerian Agama,” tuturnya, menekankan pentingnya proses resmi dalam menentukan awal bulan dalam kalender hijriah. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat menunggu informasi lebih lanjut dari pihak berwenang.
➡️ Baca Juga: Dampak Perang di Ukraina terhadap Ekonomi Global
➡️ Baca Juga: Mbak Rara Ungkap Ramalan Vidi Aldiano dengan Keyakinan 99 Persen Meski Deddy Corbuzier Mengancam




