Rupiah Menguat di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia dan Dampaknya Terhadap Defisit APBN

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan mengalami pergerakan yang fluktuatif. Namun, pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup dengan kondisi melemah.
Menurut data dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat pada level Rp 16.974 per hari Senin, 9 Maret 2026. Ini menunjukkan penurunan sebesar 55 poin jika dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang berada pada Rp 16.919 pada perdagangan hari Jumat, 6 Maret 2026.
Sementara itu, dalam perdagangan di pasar spot pada Selasa, 10 Maret 2026, hingga pukul 09.13 WIB, rupiah tercatat diperdagangkan di angka Rp 16.887 per dolar AS. Hal ini menunjukkan penguatan sebesar 62 poin atau 0,37 persen dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang berada di Rp 16.949 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa harga minyak dunia kini telah mencapai US$92 per barel, yang merupakan rekor tertinggi sejak tahun 2020. Angka ini jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang hanya memperkirakan harga minyak di kisaran US$70 per barel. Kenaikan harga ini diperkirakan akan meningkatkan defisit anggaran negara sebesar Rp 6,8 triliun.
Ibrahim menambahkan, “Jika harga minyak terus melambung hingga mendekati atau bahkan melebihi US$100 per barel, dampaknya akan sangat serius bagi kondisi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) bisa meningkat mendekati 4 persen.” Pernyataan ini ia sampaikan melalui riset harian pada Selasa, 10 Maret 2026.
Angka tersebut sangat mengkhawatirkan karena melampaui batas aman 3 persen yang sudah ditetapkan dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Salah satu penyebab utama kemacetan pasokan minyak adalah lumpuhnya Selat Hormuz, yang berfungsi sebagai choke point bagi 20 persen pasokan minyak dunia.
Menghadapi situasi yang mendesak ini, pemerintah perlu mengambil tiga langkah strategis. Pertama, perlu ada efisiensi yang signifikan dalam anggaran negara, sehingga belanja hanya difokuskan untuk keperluan masyarakat langsung. Pengeluaran pemerintah harus diarahkan untuk kebutuhan dasar rakyat, seperti pendidikan, kesehatan, pangan, energi, dan upaya pengentasan kemiskinan.
Langkah kedua adalah mengurangi konsumsi minyak dengan lebih gencar lagi melalui program konversi energi dari minyak ke sumber energi baru dan terbarukan. Contoh dari energi terbarukan ini termasuk energi matahari (PLTS) yang dapat dimanfaatkan untuk industri dan perumahan, serta energi dari air (PLTA) dan angin (PLTB) sebagai pengganti pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).
Ketiga, pemerintah perlu memperkuat stimulus ekonomi agar tidak terjadi kemerosotan ekonomi lebih lanjut dengan menerapkan program deregulasi. Ini termasuk memangkas aturan-aturan yang menghambat perkembangan ekonomi. Selain itu, debirokratisasi juga diperlukan agar proses birokrasi yang berbelit-belit tidak menghambat dunia usaha dan dapat disederhanakan.
➡️ Baca Juga: Pembelajaran Berbasis Al-Qur’an di Sekolah Modern
➡️ Baca Juga: Pameran Seni Rupa di Surabaya, Menampilkan Karya Lokal




