Ketegangan Iran dan Israel-AS Dorong Lonjakan Harga Emas Menuju Rekor Tertinggi Baru

Ketegangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah kembali menarik perhatian pasar global. Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah mendorong para investor untuk mencari aset safe haven, seperti emas, di tengah meningkatnya ketidakpastian yang melanda.
Menurut laporan dari The Economic Times, para analis memperkirakan bahwa harga emas berpotensi untuk mencapai level tertinggi baru jika eskalasi konflik terus berlanjut dan meningkatkan risiko di seluruh dunia.
Fawad Razaqzada, seorang analis pasar di City Index dan Forex.com, menjelaskan bahwa permintaan terhadap aset lindung nilai akan mengalami peningkatan yang signifikan.
“Permintaan terhadap safe haven akan meningkat, yang memungkinkan emas untuk kembali menguji level harga di angka US$5.500 dan bahkan mungkin melampaui puncak Januari yang berada di sekitar US$5.600,” jelasnya, sebagaimana dikutip dari The Economic Times pada Rabu, 5 Maret 2026.
Dengan asumsi nilai tukar Rp16.800 per dolar AS, harga di level US$5.500 per troy ounce setara dengan sekitar Rp92,4 juta, sedangkan level US$5.600 per troy ounce setara dengan sekitar Rp94,08 juta.
Namun, ia juga mengingatkan adanya potensi pembatasan terhadap kenaikan harga emas. “Akan tetapi, kenaikan harga bisa terhambat jika dolar AS menguat, terutama jika harga minyak tetap berada pada level tinggi,” ungkapnya.
Hugo Pascal, seorang trader logam mulia di InProved, berpendapat bahwa emas kemungkinan besar akan menjadi aset yang paling diuntungkan ketika pasar dibuka kembali.
“Emas kemungkinan akan menjadi aset yang paling diuntungkan saat pasar kembali beroperasi, karena investor mencari perlindungan di tengah ketidakpastian geopolitik yang ada.”
Di sisi lain, Jateen Trivedi, Wakil Presiden Analis Riset Komoditas dan Mata Uang di LKP Securities, memproyeksikan akan ada volatilitas tinggi dalam waktu dekat.
“Kami memperkirakan bahwa emas dan perak akan tetap mengalami volatilitas yang tinggi, dengan kemungkinan pembukaan yang signifikan menguat seiring dengan dominasi ketegangan geopolitik dalam sentimen pasar.”
Analis dari ANZ, Soni Kumari, juga menilai bahwa reaksi awal harga emas cenderung positif, meskipun koreksi jangka pendek masih mungkin terjadi tergantung pada perkembangan konflik yang ada.
Selain pengaruh faktor geopolitik, pasar juga akan memperhatikan rilis data ekonomi dari Amerika Serikat, seperti penjualan ritel dan angka ketenagakerjaan. Kombinasi antara risiko yang muncul dari konflik dan agenda ekonomi tersebut dapat membuat pergerakan harga emas menjadi semakin fluktuatif.
Jika konflik antara Israel-AS dan Iran berlanjut dan semakin memanas, peluang bagi emas untuk menembus level di atas Rp94 juta per troy ounce akan semakin terbuka. Namun, jika ketegangan mereda dan dolar AS menguat, fase koreksi tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai oleh para investor.
➡️ Baca Juga: Bagaimana Kriminal Mengubah Hidup Kita di 2025
➡️ Baca Juga: Dampak Perubahan Iklim terhadap Keanekaragaman Hayati
