Trump Berikan Penawaran Asuransi dan Pengawalan untuk Kapal Tanker di Teluk Persia

Amerika Serikat mengumumkan rencana untuk menawarkan asuransi dan pengawalan dari Angkatan Laut kepada kapal tanker yang beroperasi di kawasan Teluk Persia. Pernyataan ini disampaikan oleh Presiden Donald Trump di tengah ketegangan yang meningkat setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran, yang berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap perekonomian global.
Melalui platform media sosial, Trump menyebutkan bahwa ia telah menginstruksikan Perusahaan Keuangan Pembangunan Internasional (DFC) untuk segera menyediakan asuransi yang disebutnya sebagai “risiko politik”. Asuransi ini ditujukan untuk memberikan jaminan keamanan finansial bagi perdagangan maritim dengan penawaran harga yang kompetitif kepada seluruh perusahaan pelayaran.
Di tengah situasi yang mendorong lonjakan harga minyak, Trump menegaskan bahwa asuransi tersebut akan difokuskan pada kapal-kapal yang beroperasi di Teluk Persia dan mengangkut pasokan energi vital.
Presiden juga menambahkan bahwa Angkatan Laut AS akan siap untuk mengawal kapal tanker yang melewati Selat Hormuz, yang merupakan jalur pengiriman minyak tersibuk di dunia.
Menurut keterangan Trump, pemerintahannya sedang mempertimbangkan langkah-langkah tambahan untuk memastikan ketersediaan pasokan energi yang stabil bagi pasar global.
Salah satu negara yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah adalah Jepang, yang mengimpor sekitar 95 persen minyak mentahnya dari kawasan tersebut. Mayoritas pengiriman ini melewati Selat Hormuz, yang terletak antara Iran dan Oman.
Pernyataan Trump ini muncul setelah serangan yang terjadi pada hari Sabtu, yang mengakibatkan kematian pemimpin tertinggi Iran dan sejumlah tokoh penting lainnya. Insiden ini memicu ketegangan lebih lanjut di wilayah yang menjadi pusat ekspor minyak dunia.
Sebagai respons terhadap serangan AS-Israel, Iran melancarkan serangan balasan terhadap fasilitas energi di kawasan tersebut dan memperingatkan bahwa setiap kapal yang berusaha melintasi Selat Hormuz akan menghadapi konsekuensi berat.
Dengan situasi yang semakin memburuk di Timur Tengah, Trump juga mengungkapkan kepada wartawan di Ruang Oval bahwa banyak pejabat yang dianggap sebagai calon pemimpin baru Iran telah tewas dalam serangan tersebut.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan skenario terburuk di Iran, Trump menyebutkan ketakutannya akan seseorang yang “seburuk” mendiang Ayatollah Ali Khamenei dapat mengambil alih kekuasaan. Namun, Trump belum memberikan indikasi mengenai siapa yang seharusnya menjadi pemimpin masa depan Iran.
“Sebagian besar individu yang kami anggap sebagai calon pemimpin telah tewas,” ujarnya. “Kami memiliki kelompok lain yang mungkin juga telah kehilangan nyawa. Oleh karena itu, saya percaya akan ada gelombang ketiga yang muncul. Dalam waktu dekat, kita mungkin tidak akan mengenali siapa pun lagi.”
➡️ Baca Juga: OJK Pastikan Likuiditas Perbankan Nasional Tetap Stabil
➡️ Baca Juga: Peppy Ungkap Kondisi Kesehatan Terkini Tukul Arwana




