IEA Mengungkap Dampak Perang Iran, Produksi Minyak di Teluk Butuh 2 Tahun untuk Pulih

Kepala International Energy Agency (IEA) Fatih Birol mengingatkan bahwa pemulihan produksi minyak dan gas di kawasan Timur Tengah tidak akan terjadi dengan cepat, meskipun jalur pelayaran sudah kembali beroperasi. Kerusakan yang ditimbulkan oleh konflik di Iran diperkirakan akan memerlukan waktu hingga dua tahun untuk mencapai tingkat produksi sebelum terjadinya peperangan.

Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, Birol menyatakan bahwa pasar harus berhati-hati agar tidak menganggap gangguan pasokan ini hanya bersifat sementara. Menurutnya, pandangan tersebut adalah keliru, dan dampak dari konflik ini akan terasa lebih lama dari yang diperkirakan.

Laporan yang beredar menunjukkan bahwa infrastruktur penting di kawasan Teluk Persia, termasuk sumur minyak, kilang, dan jaringan pipa, mengalami kerusakan yang signifikan. Selain itu, Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk ekspor minyak mentah dan bahan bakar, sebagian besar tidak berfungsi, menyebabkan hilangnya ratusan juta barel dari pasar global.

Birol membantah anggapan bahwa pasokan minyak akan segera pulih hanya dengan dilanjutkannya pengiriman. Menurutnya, meskipun Selat Hormuz dibuka kembali, tidak berarti bahwa produksi akan kembali ke kondisi semula dengan segera.

“Meskipun Selat Hormuz terbuka, itu tidak akan serta-merta mengembalikan produksi ke tingkat sebelum terjadinya konflik. Infrastruktur perlu diperbaiki, dan produksi harus dimulai ulang,” jelasnya.

Sebelumnya, IEA memperkirakan bahwa konflik ini telah mengurangi produksi minyak hingga 13 juta barel per hari, dengan total kerugian ekspor, termasuk produk olahan, jauh lebih besar. Lebih dari 80 fasilitas yang berhubungan dengan minyak dan gas di kawasan tersebut dilaporkan mengalami kerusakan yang serius.

Dalam wawancara lain dengan harian Neue Zürcher Zeitung, Birol mencatat bahwa waktu pemulihan akan bervariasi di setiap negara. Misalnya, di Irak, proses pemulihan akan lebih lama dibandingkan dengan Arab Saudi. Namun, secara keseluruhan, ia memperkirakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke tingkat produksi sebelum perang adalah sekitar dua tahun.

Ia juga mengungkapkan bahwa pasar tampaknya meremehkan dampak dari penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan. Birol menjelaskan bahwa pengiriman minyak dan gas yang sudah berlayar sebelum terjadinya konflik kini telah sampai di tujuan, sehingga dampak kekurangan pasokan belum sepenuhnya dirasakan.

“Namun, tidak ada kapal tanker baru yang melakukan pengiriman pada bulan Maret. Tidak ada lagi pengiriman baru minyak, gas, atau bahan bakar ke pasar Asia. Kesenjangan ini mulai terlihat. Jika Selat Hormuz tidak segera dibuka, kita harus bersiap menghadapi lonjakan harga energi yang signifikan,” tegasnya.

➡️ Baca Juga: Panduan Meningkatkan Kualitas Bermain Badminton Secara Bertahap dan Aman

➡️ Baca Juga: Peluang Bisnis Rumahan Mengelola Akun TikTok Shop untuk UMKM yang Menjanjikan

Exit mobile version