Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Christopher Landau, menyatakan bahwa negara adikuasa ini berkomitmen untuk memperkuat hubungan dengan India. Namun, ia menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan India berkembang menjadi pemimpin ekonomi yang sebanding dengan China.
Landau juga memberikan peringatan terkait pandangan Washington terhadap New Delhi. Ia menekankan bahwa pendekatan yang diambil AS terhadap India tidak akan menyerupai kebijakan yang diterapkan terhadap China dua dekade lalu.
“India perlu menyadari bahwa kami tidak akan mengulangi kesalahan serupa yang kami lakukan dengan China 20 tahun yang lalu, di mana kami berkata, ‘Kami akan membiarkan Anda mengembangkan semua pasar ini’. Akibatnya, China berhasil mengalahkan kami dalam berbagai aktivitas komersial,” ujarnya, sebagaimana dilaporkan oleh Russia Today pada 12 Maret 2026.
Meskipun demikian, Landau menegaskan bahwa hubungan perdagangan dan ekonomi dengan India akan ditangani dengan adil untuk kepentingan warga AS. Dia menjelaskan bahwa negosiasi kesepakatan perdagangan antara kedua negara kini hampir mencapai tahap finalisasi.
Washington menganggap keputusan yang diambil pada tahun 2001 untuk memfasilitasi integrasi China ke dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sebagai sebuah kesalahan strategis yang berdampak pada pengurangan pengaruh industri AS.
Kedatangan impor dari China juga telah mengakibatkan hilangnya jutaan pekerjaan di sektor manufaktur di Amerika, menurut sebuah lembaga penelitian di AS.
Beberapa pembuat kebijakan berpendapat bahwa AS gagal menanggulangi subsidi yang diberikan oleh pemerintah dan praktik non-pasar yang diterapkan oleh Beijing. Hal ini memungkinkan China untuk mengganggu tatanan global yang dikuasai oleh AS melalui transfer teknologi sebagai imbalan atas akses pasar.
Hubungan antara AS dan China telah mengalami ketegangan selama bertahun-tahun, terutama terkait isu ekonomi dan teknologi. Namun, kenaikan tarif yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump tahun lalu menyebabkan terjadinya perang dagang secara menyeluruh.
Sejak kembali menjabat sebagai presiden, Trump menerapkan pendekatan ‘Amerika Pertama’ dalam bernegosiasi, tidak hanya dengan China, tetapi juga dengan negara-negara lain termasuk India dan blok Uni Eropa.
New Delhi dan Washington telah terlibat dalam negosiasi kesepakatan perdagangan selama lebih dari satu tahun. Pada bulan Februari 2026, kedua pihak mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan sementara yang menghapus tarif “hukuman” sebesar 25 persen untuk impor minyak Rusia dari India.
➡️ Baca Juga: KBRI Riyadh Minta WNI di Arab Saudi Tetap Tenang di Tengah Memanasnya Situasi Timur Tengah
➡️ Baca Juga: Pixel UI Minimalis vs One UI 6.1 Feature-Rich: Pilih Mana?
