Film ‘Pig Feast’ Dikecam, Dinilai Mengabaikan Pembangunan Energi Nasional yang Penting

Film dokumenter berjudul Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita (Pig Feast) telah memicu berbagai reaksi negatif dari masyarakat. Banyak pihak menilai bahwa film ini mengangkat narasi yang provokatif, terutama dalam kritiknya terhadap Program Strategis Nasional (PSN) di Papua. Kritikan ini dinilai tidak mempertimbangkan konteks yang lebih luas terkait pembangunan energi nasional dan masa depan wilayah Papua.

Tanggapan negatif ini muncul karena pembangunan di Papua dianggap tidak dapat dipisahkan dari upaya Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi. Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam sektor energi, terutama terkait ketergantungan yang tinggi terhadap impor minyak.

Sebagai respons terhadap tantangan ini, pemerintah tengah mendorong pengembangan sumber energi alternatif, seperti biodiesel dan bioetanol. Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan kemandirian energi nasional dan juga sebagai langkah antisipatif terhadap ketidakpastian geopolitik global yang dapat mengganggu rantai pasokan energi dunia.

Putra Aji Sujati, seorang influencer dan pakar dalam bidang Komunikasi Sosial Politik, berpendapat bahwa pengembangan energi berbasis sumber daya domestik sangat krusial dalam menghadapi dinamika global yang semakin tidak menentu.

Dalam sebuah pernyataannya, Putra menyebutkan, “Saya ingin membahas sawit, tetapi dalam konteks konflik di Iran dan Amerika. Jika Selat Hormuz ditutup akibat konflik, Prabowo Subianto sudah memiliki strategi untuk menjaga ekonomi kita melalui sawit. Perlu diingat, 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur Selat Hormuz. Jika jalur ini terblokade lebih dari 7 hari, harga bahan bakar global bisa melonjak dan Indonesia, yang masih bergantung pada impor energi, akan merasakan dampak inflasi yang signifikan. Oleh karena itu, program B50 yang direncanakan pada tahun 2026 menjadi sangat penting,” jelasnya di akun Instagram @putraajisujati.

Di sisi lain, Matatius Jiginua, seorang tokoh adat dari Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, menekankan pentingnya dukungan masyarakat untuk memastikan bahwa pembangunan dapat berjalan dengan lancar.

“Seluruh elemen masyarakat harus berupaya menjaga kondisi yang kondusif agar aktivitas ekonomi dan pembangunan dapat berlangsung secara berkelanjutan,” tambahnya.

Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto juga menekankan potensi besar yang dimiliki Papua untuk menjadi daerah mandiri dalam sektor energi.

➡️ Baca Juga: ️Bocoran iOS 18: Fitur AI Baru yang Akan Mengubah Cara Pakai iPhone Anda

➡️ Baca Juga: Ekspor Kopi Sumatera Tembus Eropa Barat

Exit mobile version