AS Hancurkan Kapal Iran di Laut Lepas Sri Lanka, Menlu Iran: AS Akan Menghadapi Konsekuensinya

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, telah memberikan peringatan tegas kepada Presiden AS, Donald Trump, menyusul serangan terhadap kapal perang Iran yang dilakukan oleh torpedo milik Amerika Serikat. Araqchi menekankan bahwa AS akan merasakan konsekuensi dari tindakan yang dianggapnya sebagai preseden berbahaya dalam hubungan internasional.

“Amerika Serikat telah melakukan serangan brutal di lautan, berjarak sekitar 2.000 mil dari pesisir Iran. Fregat IRIS Dena, yang sedang berkunjung dan dioperasikan oleh Angkatan Laut India, diserang di perairan internasional tanpa adanya peringatan terlebih dahulu. Ingatlah kata-kata saya, Amerika Serikat akan sangat menyesali langkah yang mereka ambil ini,” ungkap Araqchi di platform X, seperti yang dilaporkan oleh berbagai sumber pada tanggal 5 Maret 2026.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, sebelumnya mengonfirmasi bahwa kapal selam AS telah menenggelamkan kapal perang Iran di Samudra Hindia, tepatnya di dekat Sri Lanka. Dia menambahkan bahwa Iran telah mengendurkan kewaspadaannya dan percaya bahwa kapal tersebut aman berada di perairan internasional.

“Namun, kapal itu justru ditenggelamkan oleh torpedo yang disebut Quiet Death. Ini adalah momen bersejarah karena merupakan kali pertama sebuah kapal musuh ditenggelamkan dengan torpedo sejak Perang Dunia II. Seperti dalam perang tersebut, ketika kami masih dikenal sebagai Departemen Perang, kami berjuang untuk meraih kemenangan,” kata Hegseth.

Dalam tayangan video yang dirilis oleh Pentagon, terlihat jelas kapal perang Iran tersebut dihantam oleh ledakan besar yang merusak bagian belakangnya. Dampak dari ledakan itu membuat kapal terangkat sebelum akhirnya mulai tenggelam dari bagian buritannya.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menyatakan bahwa kapal perang tersebut ditenggelamkan menggunakan satu torpedo jenis Mark 48, yang diperkirakan bernilai sekitar 4,2 juta dolar AS.

“Mark 48 merupakan salah satu senjata anti-kapal paling mematikan yang dimiliki oleh Angkatan Bersenjata Amerika Serikat,” ungkap Thomas Shugart dari Center for a New American Security kepada Fox News.

Shugart menjelaskan bahwa torpedo ini tidak dirancang untuk menghantam kapal secara langsung. Sebaliknya, senjata ini menciptakan gelembung uap di bawah kapal yang dapat memisahkan badan kapal menjadi dua bagian.

“Torpedo ini meledak di bawah buritan kapal Iran, mengangkatnya keluar dari permukaan air, dan dalam waktu singkat, kapal tersebut pun tenggelam,” jelasnya.

➡️ Baca Juga: KBRI Riyadh Minta WNI di Arab Saudi Tetap Tenang di Tengah Memanasnya Situasi Timur Tengah

➡️ Baca Juga: Bupati Pangandaran Ngadu ke Demul Gegara Tak Mampu Bayar Gaji Pegawai

Exit mobile version